Mengenal Print On Demand Yuuuk!

“Hm… apaan ya POD itu? Apakah POD singkatan Pekan Olah Raga Daerah? Enggak mungkin singkatannya itu! Ini kan berhubungan dengan dunia tulis menulis .”  Saya berfikir terus saat membaca sebuah pesan di inbox Facebook dari Penerbit.

Malu bertanya  sesat di jalan . Akhirnya saya putuskan untuk bertanya, apakah yang dimaksud Penerbit dengan POD?Mengenal Print On Demand Yuuuk!

Ternyata POD merupakan singkatan dari kata Print On Demand. Ssaat ini banyak Penerbit yang menggunakan sistem ini kepada penulis, terutama pada self publishing [penulis yang menerbitkan bukunya secara individual].

Tapi ada juga penerbit komersial yang menerima tulisan penulis dan menerapkan sistem POD pada saat mengajukan kerjasama dengan penulis.

Pada sistem Print  On Demand ini, pekerjaan editing, cover, layout, cetak, distribusi, dilakukan oleh penerbit sendiri. Biasanya penerbit menggunakan penjualan online, karena buku tersebut dicetak digital saat ada pesanan dari pembeli.

Penulis pemula seperti saya menyetujui sistem ini karena susahnya masuk ke penerbit besar yang menetapkan sistem cetak yang seperti biasanya, menyimpan buku di gudang terlebih dulu, baru didistribusikan.

Dalam setiap sistem yang dipakai, ada kelebihan dan kekurangannya, terutama penerbit yang menawarkan self publishing.

Apabila menggunakan POD untuk self publishing/penerbit komersial, kelebihannya secara modal kita bisa menghemat biaya, tidak memerlukan biaya yang berpuluh-puluh juta. Kekurangannya mungkin saat pemasaran kita hanya bisa menawarkan lewat internet/berjualan secara online, tidak bisa langsung masuk ke toko-toko buku di dunia nyata.

Untuk royalti di self publishing, itu ditentukan oleh penulis sendiri dalam sistem POD ini. Tapi untuk penerbit komersial, royalti diberikan 10% dari harga buku yang terjual. Misalnya harga buku Rp 30.000 pereksemplar, maka royalti untuk penulis adalah Rp 3.000 pereksemplar.

Sekarang ini di dunia tulis menulis, sangat banyak tawaran dari penerbit bagi penulis. Oleh karena itu, sebagai penulis pemula seperti saya, tetap harus belajar dan terus belajar, memilah dan memilih yang terbaik.

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk semua pembaca.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *